2015/03/01

Jadi, masih ada sisa?

percakapan siang dengan seorang teman disaat menunggu pengajar masuk kelas

A: jadi sudah tidak ada lagi galau yang tersisakan ketika belum dikabari?
D: tidak ada
A: aku sudah menebak, karena ini semua apa yang benar-benar kamu butuhkan
D: *menangis* tapi...
A: kenapa?
D: aku masih menyimpan rindu akan seorang yang terus menetap disatu ruang khusus yang ku sisakan dalam hatiku, diruang yang berbeda tentunya dengan pengisi hariku saat ini, yang jelas ruangan ini tidak boleh dibuka oleh siapapun, tidak boleh di bersihkan oleh siapapun, karena jelas hanya dia yang layak menempati
A: sisa masa lalu?
D: bukan sekedar masa lalu seperti lainnya, namun bisa dipastikan itu masa lalu cukup rapi tersimpan dengan baik dan tidak ada goresan didalamnya
..................
(kurang lebih seperti itu percakapannya)



bisa dilihat, percakapan diatas bukan sekedar basa-basi seorang teman yag bertanya apakah sudah bahagia ia sekarang setelah mendapatkan yang ia mau, yang menurut lingkungannya ia seorang yang tepat, seorang yang (mungkin) pasti bisa di andalkan untuk sebuah rencana masa depan
terlalu dini untuk memikirkan masa depan, tapi sebagai seorang wanita rasanya terlalu munafik bila tidak memikirkan masa depannya untuk sebuah kata aman bersama orang yang tepat baik menurut keyakinan, fikiran, gerak tubuh, bahkan hingga lingkungan sosial.
berbicara masa depan, akan ada sebuah antonim dari masa lalu yang tentu tidak dapat dipisahkan
perbincangan diatas, bukan sedang membandingkan ruang hati yang disediakan untuk masa depan yang masih tetap ada untuk masa lalu
tidak! masa depan selalu mempunyai ruang yang lebih banyak ketimbang masa lalu
jika boleh beragumen tentang pembicaraan tersebut, saya berfikir, benar adanya kenangan masa lalu mau dibuang sejauh apapun (ini terjadi apabila masa lalu yang terjadi sangat brengsek) pasti akan tetap teringat apalagi masih berada dilingkungan yang lama, namun ketika masa lalu mau disimpan sebaik apapun terlebih memang dia paling berjejas dalam ingatan dan masih tetap dilingkungan yang sama atau sudah berbeda bisa dibilang akan tetap ada satu ruang khusus untuknya.

satu ruang khusus untuknya?
bukan perkara masih ingin mengulang kisah yang sama atau masih terus menerus teringat akan nama yang tersisa di satu ruang tersebut, bisa dibilang masa lalu tersebut memang masih berbekas sebegitunya, kenangan itu terlebih ia memang tidak sama sekali menggoreskan luka di hati serta tidak pernah menyesakkan ruang fikiran dengan ulahnya maka bisa dipastikan ia memang masih akan terus tinggal disana, rapi, tersedia untuknya, kecil memang tempatnya, namun tetap tersedia, malah jika dibandingkan dengan ruang khusus untuk masa depan bisa dibilang ini hanya 20% yang disediakan, sekali lagi bukan ingin kembali kepadanya, hanya sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Tuhan bahwa telah mempertemukan kita dengan orang sebaik dia, orang yang mengajarkan kita bahwa ketika masih ada rasa yang tersisa tidak harus dilupakan ketika tidak lagi bersama, simpan rapi karena ia memang pantas disimpan rapi untuk sebuah kenangan

lantas apakah ini menyakiti pemilik masa depan? tidak, segala sesuatu tidak harus benar-benar dipaksakan utuh, segala sesuatu tidak harus maksimal menguasai wilayah, tapi yang harus diingat segala sesuatu yang ada didepan harus benar-benar dijaga sepenuhnya agar kelak ruang yang tadinya hanya disediakan 80% bisa sedikit mengikis dan mengalahkan 20% tersebut dan waktu yang akan berbicara bahwa masa lalu boleh disimpan tetapi yang boleh dirawat untuk kemudian menjadikan kita lebih baik hanya masa depan, begitu kiranya? saya rasa iya....






Tidak ada komentar:

Posting Komentar