2014/08/31

Selamat Mengulang 31 Agustus

ketika pertama datang, aku ragu apakah aku bisa dengan cepat beradaptasi disini
semuanya benar-benar baru dan ini baru pertama kali jauh dari kedua orangtua
ketika itu aku paling mengingat bahwa ini tanggal 31 agustus 2012 
tidak menyangka bahwa si bungsu ini benar-benar berani untuk hidup dalam rentang jarak ±500KM dari sebuah zona kenyamanan selama 19th terakhir
aku sudah membayangkan bahwa hari-hari disini akan tidak semenyenangkan ketika masih berada dizona nyaman

ya, aku memang bungsu yang hampir tidak pernah jauh bahkan sama sekali jauh dari kedua orangtua dan rumah
aku terbiasa dengan hidup didekat beliau, dan sekarang karena sebuah keputusan dan memang sudah menjadi pilihan untuk melanjutkan sekolah ke tahap universitas maka resmi tanggal 31 agustus 2012 sewaktu itu aku menjadi "ANAK KOST"

predikat baru, suasana baru, tempat baru, kehidupan baru, second home, second family (jika ada), kamar tidur baru, kamar mandi baru, dapur baru, bahkan tetangga kost baru

dan lihatlah, sekarang 31 agustus 2014
ini sudah akan menjadi tahun ke-3 untuk menjadi anak kost
aku sudah bertemu banyak hal, aku sudah tidak lagi menjadi makhluk egois karena ada banyak sekali manusia yang harus aku jaga perasaannya, aku sudah bisa mencuci baju memakai tanganku sendiri, iya hebat bukan, ini sebuah prestasi (bagiku) karena sebelumnya aku memang sangat dan tidak bisa mencuci baju dengan tangan, simply karena aku bungsu dan aku memang tidak pernah mengerjakan itu dirumah, alasan lain badanku selalu hangat jika terlalu lama di air, tapi lihatlah aku sudah matang menjadi anak kost
aku sudah dengan sangat bisa menghandle keuanganku, dengan uang yang memang harus aku cukupkan sekali untuk sebulan bertahan atau bahkan lebih, karena aku sebisa mungkin dan memang sedari awal ngekost hingga detik ini, aku tidak pernah menelpon mama hanya untuk bilang "ma, uang aku habis" belum pernah, karena aku memang harus berhemat, dengan ekonomi kelas menengah aku harus pintar, ya aku telah lulus ujian kepintaran menghandle keuangan, ini juga sebuah prestasi (bagiku), dan sayangnya aku kurang pintar dalam menjaga kesehatan, seringkali aku memang sakit dikosan tapi ini bukan sebuah hal yang bearti, yang penting aku masih tetap bisa kuliah, bearti aku masih sehat, begitu anggapanku (sebagai anak kost)

dan ini tahun kedua dimana aku indekost bersama seorang teman (beda daerah), disinipun aku bertemu dengan teman yang sudah ku anggap my second family, whatever bagaimana kurang lebihnya mereka, yang jelas mereka yang paling bisa kuandalkan dibarisan depan ketika aku butuh tawa dikala sedang dalam keadaan "stuck" dikost, disini juga aku bisa bertemu dengan siapapun manusia yang bersifat baik yang sudah mau menjadi keluarga bagiku, dan lewat sini juga aku mengetahui bahwa dunia sesempit bagaimana dinding-dinding kost menempel jadi satu hampir tidak bercelah

well, selamat 31 agustus, selamat memasuki tahun ketiga menjadi anak kost, selamat mandiri, selamat mengurus diri sendiri, dan semoga masih selalu bersama partnerku (rahma) dikamar yang nyaman ini

2014/08/30

Ketika Dahaga Terbayar

ini bukan tentang kehausan atau kelaparan
ini lebih ke tentang ingin menyapa seorang yang telah berhasil membuat senyum mengembang ketika datang dan berjalan ketika melintasi, bertemu ketika searah tetapi tidak pernah saling sapa....
siapa kamu?
begitu tanya mereka, 
aku? tentu sudah tidak usah menjelaskan
aku yang baru sadar bahwa ada satu pelepas dahaga di sela-sela aktifitas yang stuck ini
bertemu dengan seorang yang tidak sengaja ketika sebuah acara kemudian tetap tersipu malu ketika hingga saat ini itu sebuah dahaga yang terbayar

kenapa begitu?
setidaknya selain belajar, dan menjadi kewajiban pergi untuk bekerja sedari pagi hingga terkadang aku lembur tengah malam, masih akan ada sebuah senyumku yang tiba-tiba saja mengembang ketika bayangmu, ahh bukan sekedar bayang tetapi malah ragamu melintasi tepat didepanku, kemudian berjalan disamping, dan terakhir dibelakangku.

kamu, yang aku ingat dengan jelas pernah memberi penerangan dikala kantor sedang dalam keadaan redup lampu, aku fikir kamu memberikan kepada siapapun tetapi nyatanya kamu mengikuti aku hingga sampai pada kubikel kerjaku, itu pertama bukan?

kamu yang ku ingat selalu dan tidak pernah terlupa memakai converse yang kutahu (mungkin) favoritmu setiap berangkat kerja kemudian berganti sepatu boats yang sesuai dengan kemeja sesikumu dan celana dasar slim yang selalu menjadi pakaian khasmu.

aku ingat kamu selalu meletakkan kunci mobil jeepmu disaku belakangmu ketika baru saja tiba dikantor, terlebih kamu selalu membawa sapu tangan? ahh dijaman yang sudah banyak tissue, tapi kamu masih saja membawa sapu tangan, kamu memang terlihat manis, terlebih senyum manismu terhadapku, memang berbeda divisi tapi kamu selalu ramah tetapi hanya berupa senyum tidak dengan bersapa tegur

ahh sebegitunyakah dahagaku terbayar?
tapi aku selalu ingat, ini hanya sebuah pelepas dahaga seperti berada dipadang pasir yang tandus, ya seperti itu, karena bagiku, kamu hanya semesta kecil di duniaku yang stuck ini, lalu?

perkenalkan aku mempunyai semesta besar ketika aku sudah menjadi aku, ketika bertemu semesta kecil dalam dunia yang stuck yang itu hanya sebuah bagian dari khayalan, semesta besarku berada pada dia yang selalu ada ketika aku memang harus kembali pada duniaku sebenarnya, dimana ada dia yang sudah menjadi bagian juga dari masa depanku, dimana lengannya sudah siap memberi peluk hangat, panca inderanya siap selalu untukku, bahunya bersedia ku timpali ceritaku seharian disemesta kecilku, dan yang paling penting dia yang selalu ada ketika aku butuh, dia yang ada ketika aku ingin pulang, dia yang selalu ada dan bersedia ketika aku hanya butuh peluk hangat, dia semesta besarku, dia juga yang memberi aku kesempatan berkarya pada semesta kecil, tapi bukankah semesta kecil hanya memberi ruang gerak terbatas? maka dari itu aku selalu pulang pada semesta besar, dia sang semesta besarku Reno Adhiatma dan aku si pemilik semesta besar itu,Sassy Accanisa. 

2014/08/27

Simpan Atau Bagi, Itu Hak Kamu!

Ada kalanya, ada masanya, dan menuju dimana kadar diam memang menjadi meningkat dan pilihan terakhir jika masalah dalam hidup sudah mencapai titik “aku mau menyelesaikan ini, tapi ini hanya bisa dengan bantuan Tuhan tanpa aku harus bercerita pada siapapun” baik masalah pendidikan, karier, cinta hingga keluarga begitu. Pasti akan ada dimana setiap manusia berbicara atau bergumam begitu, lebih banyak kepada diri sendiri pastinya karena sudah mencapai titik bosan dan lelah ketika harus menceritakan baik dari titik nol, pertengahan ataupun ending pada sekeliling.

Bukan tidak ada orang sekeliling yang mau mendengarkan, menyediakan peluk hangat, pundak serta lisan yang siap memberi ucapan “kamu pasti bisa”, bukan tidak ada. Bisa dibilang banyak yang akan begitu namun apakah diri sendiri yang mempunyai masalah ini cukup bisa untuk membagi cerita masalah hidup yang dirasa sudah cukup berat untuk dibagikan dan malah yang ada hanya mengundang perasaan kasian atau iba bukannya mensupport atau bahkan mereka dengan mudahnya bilang “kok gitu” atau “ya udah nggak usah terlalu difikirlah, nanti juga lewat masalahnya”, ya mungkin orang bisa semudah itu berkata, namun dibalik kondisi kita yang menjawab “iya deh” terlintas juga apa bisa? Ini dirasa berat dan belum pernah mengalami kondisi dimana diri sendiri malas untuk berbicara masalah yang serius pada orang lain.

Berpura tegar, dan menampilkan sebaik mungkin senyum yang dimiliki pasti merupakan kepandaian dari diri manusia ketika sudah dalam fase dewasa menyikapi permasalahan yang ada, ada banyak memang orang dewasa diluar sana yang terbagi pintar dalam menyembunyikan masalah hingga menebar semua problem hidup baik dengan teman ataupun socmed. Dewasa dalam artian menyembunyikan masalah memang hanya bisa disematkan pada orang yang dari luar terlihat semuanya baik, terlihat bahwa ia menikmati hidupnya, terlihat juga bahwa ia tidak terlalu mempermasalahkan masalah disekitar, namun tahukah? Sebenarnya manusia dengan tipe seperti itu lebih banyak menyimpan masalahnya, lebih besar masalahnya, dan lebih rumit masalahnya, hanya ia dengan begtu dewasanya melipat dan meletakkan masalahnya dalam kotak yang ia sebut hati, dan dibungkus dengan perasaan “hey, look at me, I’am fine with all problem on my life” pada orang disekelilingnya ketika mereka bertanya kenapa manusia seperti ini bisa dengan lepasnya tertawa dan menikmati hingar bingar kehidupan padahal dalam hati ia membutuhkan ruang untuk diam.

Mengertilah, beberapa masalah memang tidak pantas untuk diceritakan bagi si manusia yang mempunyai masalah, karena apa gunanya berceritanya jika hanya pada akhirnya tidak membuat perasaan lega malah yang ada makin banyak yang mengetahui jika ia sedang dalam sebuah masalah, terlebih sifat dasar manusia pasti lebih banyak yang hanya ingin tahu, ya sekedar ingin tahu lalu mereka mungkin tertawa dengan permasalahan yang dimiliki oleh si manusia yang bercerita, tapi ada juga dan pasti ada yang memang tulus memberi peluk hangat untuk menenangkan.

Hidup bukan sekedar berbagi tetapi terkadang menyimpan sendiri jika itu menjadi pilihan terbaik tidak salah untuk dilakukan, please simpan apa yang ingin kamu simpan, semua tidak harus dibagi baik kebahagiaan maupun kesedihan, hidup menjadi manusia tanpa masalah memang keinginan banyak orang maka bungkus dirimu dengan senyum kebahagiaan hingga kamu sendiri akan mengetahui jalan keluar dari masalah kamu hanya dengan sesabar kamu menunggu tawa dari sekelilingmu, mungkin dirasa tidak seimbang mana bisa masalah hanya diselesaikan dengan senyum? Nyatanya bisa. Dengan senyum kamu akan terlihat “baik” didepan diri kamu sendiri dan sekelilingmu, dan kamu akan me-mindset diri kamu untuk “ya aku bisa menyelesaikan ini dengan diriku sendiri, aku hanya perlu berdamai dengan masalah, diri sendiri, waktu serta Tuhan yang pasti akan memberi hikmah dalam setiap permasalahan yang diberi”


                                                                                                

2014/08/07

suka duka ber-travel-able ria

dear, travel!!!
dari judulnya aja pasti semua bisa tau aku bakal bahas apa di post kali ini adalah tentang travel

kenal ah pasti sama travel, ya kendaraan pribadi atau emang sejenis travel yg gede gitu pokoknya naiknya umum atuhlah disebut travel

jadi gini, aku dulu paling anti banget naik travel, ya lagian dulu juga mau naik travel itu kemana kan nggak ada tujuannya, trus basicly aku emang type anak yang kalo mau kemana nunggu dianter dulu sama orang rumah, ya biasa anak bungsu mau kemana dikit pasti harus lapor sana sini -_-

aku duluuu itu pernah nge-ihh apaan tuh naik travel pasti itu orang dari dalem deh, atau ihh ampun naik travel itu nggak enak bgt campur sama orang yang dikenal dimobil atau takut ahh naik travel bahaya, ya gengges gitu biasa namanya anak baru-able kenal travel dan belum memahami travel luar dan dalem *tsahh haha

dan ternyata sekarang kendaraan aku setiap pulang ke indralaya adalahhh travel, ya walaupun baru belakangan ini sih, awal-awal aku dianter sm bapak make mobil rumah, dan itu hanya sampe di semester 2 aja, aku mikir masa iya aku mau terus-terusan minta anter dan akhirnya aku memberanikan diri naik travel. besok ini adalah naik travel ke 5 deh kalo nggak salah hehee, suka duka naik travel pasti banyak!! nih aku ceritain ya tapi ini menurut aku ya, karena kan pengalaman aku 

1. nggak makan dr jepara-indralaya
seharian bayangin aja dr rumah sampe kosan ini perut nggak bisa kemasukan apa-apa kalo naik travel, semuanya balik keluar lagi, tapi kalo naik mobil rumah dijalan mau ngemil sampe kenyang juga oke aja

2. harus naik depan
kalo naik travel aku selalu pesen bangku depan samping supir, ahh ya gimana aku nggak suka naik travel trus duduk ditengah, aku maunya harus depan biar kalo misal aku mabuk atau penumpang lain mabuk nggak "nular" tapi lain kalo naik mobil rumah aku duduk tengah aja tahan bener malah sampe tidur-tidur gitu nggak pusing

3. harus make masker
percayalah naik travel kalo nggak make masker rasanya aku kekurangan oksigen entahlah pokoknya gitu :(

4. harus bawa minyak kayu putih
ini barang wajib buat balurin perut -_-

5. sepanjang jalan merem 
iya, aku kalo naik travel merem aja sepanjang jalan, ada sih meleknya pas di unit 2 tulang bwg sama pasar layo, ya abis yang rame cuma itu -_-

6. enaknya adalah
enaknya ada sih ya kayak bisa milih duduk mana, trus apalagi ya udah ah cuma ini aja

ya aku sampe sekarang masih nggak habis fikir, kalo aku akhirnya nyoba travel juga dan malah sekarang tiap pulang ke layo naiknya travel padahal tadinya amit-amit, ya gue mamam omongan sendiri, mamam!! jadi pelajarannya jangan ngomong sesuka hati nanti kalo dimamam sendiri yang ada cuma keheranan dan timbul kata "kok bisa ya" terus ujung-ujungnya ya gitu dulu nyesel ngapa kok bisa ngomong gitu dan kalo inget ya ketawa aja sendiri :D