2014/05/25

TUKTOKTUKTOK

Kalian tahu bagaimana rasanya menciptakan irama tuktoktuktok dari sebuah sepatu heels dari langkah kalian? Bahagia sekali, ya ini memang kali pertamanya aku melangkah keluar dari unit apartementku menggunakan sepatu dengan tumit yang terangkat jauh keatas serta disunggi dengan hak yang tingginya sekitar 11 cm. diumurku yang sudah 22 tahun ini, aku yang baru lulus dari strata satuku dari sebuah universitas yang memberi gelar padaku S.Psi, ya aku seorang psikologi muda yang hari ini pertama kalinya berstatus sebagai seorang consultant disebuah perusahaan ternama yang memang menjadi goalku setelah aku lulus.
Memakai heels tidak sesederhana menyeduh coffee untuk teman dimalam hari, pagi hari bahkan saat senja disaat masa kuliahku, memakai heels tidaklah semudah mendukung kamu berkarier dalam pekerjaanmu sebagai teknisi ahli pertamina, memakai heels tidak semudah aku berani keluar dari kotaku untuk menggapai sebuah masa depan, memakai heels tidaklah juga semudah aku membelinya.
Ah, aku mungkin terlalu berlebihan, karena disaat wanita lain sudah sejak umur belasan terbiasa dengan sepatu khas wanita itu, aku bahkan baru memulainya di umur 22th ini. Ya, aku memang terlambat untuk bersahabat dengan sepatu penimbul irama merdu tersebut. aku masih ingat saat kamu; pulang dari tugasmu ditengah laut sana kemudian kamu dengan sabarnya menemani aku memilih sepatu heels ini disebuah butik ternama ditengah plaza ini. Kata kamu, aku sudah seharusnya memang menggunakan sepatu ini, kata kamu aku sudah harus sedikit berjalan lebih anggun daripada ketika aku menggunakan converseku. Ah aku bahkan mendapat pujian dari orangtuaku saat aku mengirimi beliau foto tentang aku yang hari ini menjadi wanita yang sebenar-benarnya wanita.

Aku kira mudah menggunakan ini, ternyata benar katamu. Aku harus lebih mewanitakan diriku sendiri, aku harus lebih anggun, aku harus lebih stabil dalam berjalan. Hey, kamu cepatlah pulang kesini, kita harus berjalan-jalan dengan sepatu heels baruku pilihan kamu yang sangat anggun ini. Kita harus berjalan bersama, berdua menuju masa depan kita dengan sepatu heelsku yang mengantarkan aku pada pekerjaan consultant dan sepatu bootsmu yang mengantarkan kamu pada teknisi ahli pertamina itu, aku yang merindukan kamu, Violan Putri Bramasta.

duniaku dunia diam!!

Bangku ini sudah lama aku tempati, dengan setelan kemeja levi’s  dan jeans belel serta sepatu converse yang menjadi favorit alas kakiku, aku terdiam. Tidak lepas dari tanganku sebuah coklat pasta yang selalu menjadi temanku disetiap aku melakukan kegiatan favorit ini dan segelas mocca float yang sedari tadi sudah menemani disisi kanan bangku yang aku duduki, kegiatan favorit itu iyalah terdiam dalam waktu yang lama.
Bukan melamun, bukan juga sedang dalam keadaan berfikir keras untuk sebuah masalah, namun aku senang terdiam dalam waktu yang lama, menikmati lalu lalang disekelilingku itu sudah menjadi hobby tersendiri bagi diri ini.
Sering terdiam begini bukannya aku tidak benar-benar sedang mengosongkan fikiran, ada jelas aku berfikir. Aku lebih senang berfikir tentang bagaimana aku bisa bahagia dengan dunia khayalku, dengan caraku, dengan visualku, dengan ekspektasiku, dengan siapa aku akan bahagia. Beberapa kali aku sering ditegur jika aku sedang terdiam, ada yang berkata tidak baik jika berdiam sendiri, ada yang berkata nanti diganggu makhluk lain jika berdiam begini. Fikirku mereka yang menegurku itu bisa saja masuk dalam cerita bahagiaku dikala terdiam episode ini.

Aku terkadang hadir diantara keramaian, jelas seperti tadi aku jelaskan aku menikmati keramaian tersebut, namun dalam keramaian nyata tersebut aku juga membuat keramaian semua dalam diamku, dalam khayalku dan tentunya akulah sang gadis pembuat cerita itu 

sebenarnya aku...

Sebenarnya aku…. Belum pernah jatuh cinta
Sebenarnya aku pun belum pernah dirasa mebatap mata seseorang begit dalam
Sebenarnya aku belum pernah menggamitkan tangan ini pada tangan yang perkasa
Sebenarnya aku belum pernah menyandarkan sepenuhnya baik kepala, hati, bahkan badan pada seseorang yang berhak
Sebenarnya aku belum pernah berbagi rasa apapun itu pada dia
Sebenarnya aku tidak pernah tahu apa itu sebuah komitmen
Sebenarnya aku belum pernah duduk berdua dengan dia
Sebenarnya aku tidaklah mudah berbagi rasa terlebih bersama dia
Sebenarnya aku belum pernah memikirkan dia sekali pun
Sebenarnya aku belum pernah menulis sesuatu untuknya
Sebenarnya aku belum pernah tertawa secara sederhana dengannya

Sebenernya aku ini pernah apa???