2015/01/27

Ketika Yang Patah Bukan Lagi Hati

Siang, ketika baru saja menjalankan perintah sebagai makhluk beragama, ada kejadian yang membuat diri ini hening, diam, bahkan meminta Tuhan ulang ke lima detik lalu bisakah?

Ya, siang itu lipstick merah marunku terluka, ah bukan terluka, apa ya gompel atau apalah yang jelas aku sendiri seperti ada yang hilang melihat keadaan lipstick sudah ada cela di bagian pengoles bibirnya terkena tutup lipstick itu sendiri. Iya, ini sudah kesekian kalinya meratapi barang kesukaan sejak aku gadis ini setelah maskaraku jatuh, bedakku retak saat ku letakkan dalam tas dan ku taruh dibagasi motor, eyeshadowku jatuh tapi tidak retak *bersyukur*, dan kemarin siang adalah lipstikku rusak akibat ulahku sendiri yang ceroboh

Tapi dari sini aku sadar, bahwa aku sudah beranjak dewasa dari masa remajaku, ya gadis bungsu mama ini bukan sekedar lagi meminta alat masak – masakkan, merajuk ketika tidak diberikan mainan BP – BPan yang ada tokoh sailormoon atau Barbie lengkap dengan baju, aksesoris, bahkan alat make–upnya.


Jelas, aku tahu, perihal patah bukan lagi hanya perkara hati, patah sudah ke berbagai sisi, bahkan alat make up bisa membuat penyeselan tiada habis dan meminta Tuhan mengulang 5 detik kebelakang agar tidak lagi ceroboh, lainnya aku tahu hidup bukan lagi perihal sekedar cinta di usia ini, bukan lagi perihal patah hati ketika gebetan berpaling, bukan sekedar php bahwa dia tidak memilih kita namun lebih dari itu, hidup tentang keindahan untuk mempercantik diri, hidup perihal menjaga sebaik mungkin apa yang kita punya, hidup perihal berhati – hati untuk tidak ceroboh akan hal yang kita jaga sepenuhnya, hidup perihal menghargai apa yang kita punya sedikit atau sebanyak apapun barang itu, hidup perihal pelan tapi pasti ketika sedang santai, hidup perihal berlari untuk menjadi yang terbaik ketika ritme sedang tinggi, serta hidup adalah perihal bahwa fase akan selalu berubah seiring dengan usia, pengalaman hidup, lingkungan serta apa saja yang telah diperoleh untuk kemudian bisa dilihat orang banyak bahwa kita benar hidup dalam hidup kita sendiri.