Bersyukur itu mungkin
salah satu cara mengindahkan karunia yang diberi Tuhan padaku. Bagaimana tidak
sampai detik ini aku diberi Tuhan kaki yang normal untuk berjalan, tangan yang
normal untuk bekerja sehari-hari, mata yang normal untuk melihat keindahan
ciptaan Tuhan, hidung yang normal untuk bernafas menghirup segarnya zat yang
bernama oksigen, telinga yang normal untuk mendengar suara adzan, mulut yang
normal untuk selalu melafadzkan Alhamdulillah disetiap berkahnya J
Tapi tentu tidak
segalanya berjalan dengan normal, iya. Ada satu kekuranganku yang sampai
sekarang kurang bisa aku handle L mungkin judul
diatas ada salah satunya, maksudkan kalian dengan (R) << itu artinya aku
selama 20 tahun ini absen dalam berbicara abjad ke 18 tersebut. Absen??
Kenapa?? Iya, kebetulan sama Tuhan aku diberi hadiah untuk tidak seberapa
lancar berbicara abjad ke 18, mungkin maksud Tuhan agar aku tidak menjadi
makhluk sombong yang merasa sempurna, iya aku diciptakan begini bukan tanpa
maksud tujuan, pasti pasti ada tujuan tersendiri kenapa Tuhan begini, bisa saja
agar aku tidak menjadi sombong, agar aku bisa mengerti bagaimana menjadi orang
yang kurang sempurna, bisa memahami bagaimana perasaan mereka ketika dicela
oleh orang lain karena kekurangan mereka, bisa lebih bersabar jika dicela
dihadapan publik karena kekurangan ini, bisa lebih termotivasi bagaimana bisa
menutup kekurangan ini dengan kelebihan yang aku miliki.
Maksud Tuhan banyak,
tetapi sampai saat ini aku belum bisa menerjemahka maksud tersebut, seringkali
aku menangis, kenapa aku harus terlahir dengan keadaan tidak bisa berbicara
abjad ke 18, jangan ditanya seberapa sering aku menangis, jangan ditanya
seberapa sering aku minder, jangan ditanya seberapa sering aku mengunci mulutku
dihadapan publik, jangan ditanya seberapa sering aku lebih banyak diam jika
dalam pergaulan, jangan ditanya aku mengapa aku malas presentasi didepan kelas,
jangan ditanya kenapa aku jarang sekali bertanya ataupun menjawab pertanyaan
guru baik dosen, jangan ditanya kenapa aku tiba-tiba malas berbicara jika sudah
ada yang mencoba menyenggolku akibat kekurangan aku ini, jangan ditanya kenapa
aku selalu tidak memiliki rasa percaya diri, jangan ditanya kenapa aku
terkadang lebih suka menulis ketimbang berbicara, jangan ditanya kenapa aku
lebih senang di zona nyamanku daripada harus membangun diri dilingkungan baru,
jangan ditanya kenapa aku, jangan pernah bertanya mengapa aku bisa begitu,
jawabanku hanya simpel > aku takut untuk memasang ekspresi tegar padahal aku
menangis !
Iya aku selalu bertahan
hingga sekarang dengan posisi pura-pura tegar padahal kalau boleh milih ya
nangis disitu juga HAHAHA, terlalu lemah . .
yah gimana dong, kalau bisa milih aku mana mau jadi orang yang tidak
sempurna seperti ini, tapi ya lagi-lagi aku hanya bisa menjalankan kehidupan
atas skenario Tuhan J
Kalian tahu, faktor
utama yang selalu membuat aku bertahan pada posisi seperti ini apa? Orangtuaku,
iya beliau memang sempurna, beliaulah yang mampu membuat aku bertahan, beliau
yang selalu membuat aku kuat agar aku bisa tetap berjalan seiringan dengan
teman-temanku, mencetak prestasi sama dengan yang lain, berkontribsusi dalam
segala hal, beliaulah yang kekuatan aku dikala aku terjatuh disaat ada yang
lagi-lagi dengan usil mencela kekuranganku satu ini, lalu kakak-kakakku . . .
ahh ketiga kakak-kakakku juga kurang sempurna dalam melafadzkan abjad ke 18
tapi mereka mampu bertahan dilingkungan lama ataupun baru yang mereka pijak,
kenapa aku tak bisa ! itu faktor yang bikin aku kuat.
Terkadang aku heran
dengan orang yang selalu membenarkan ucapanku, mereka sebelumnya apa tidak
berfikir bagaimana jika mereka berada diposisiku, bagaimana jika mereka yang
dibenarkan ucapannya, bagaimana jika mereka yang dicela, bagaimana jika mereka
yang jadi bahan tertawaan, bagaimana jika mereka yang pura-pura tegar . . ahh tapi sayangnya mereka tidak akan pernah
merasakan, karena mereka alhamdulillah diberikan tingkat kesempurnaan berlebih
hingga lupa mungkin ya bagaimana cara menghormati atau menghargai individu yang
bagi mereka lucu tersebut.
Tapi disatu perjalanan
kemarin saat aku pulang penelitian sosiologi pendidikan, kebetulan aku wanita
sendiri dalam kelompok penelitian tersebut, dan aku yang memang suka sekali
berfikir jika sedang sendiri lalu tiba-tiba aku mengingat kejadian tadi, ahh
aku sedikit lebih berani hari ini berbicara didepan publik, ya aku bisa
berbicara dengan wakil kepala sekolah disekolah yang menjadi objek penelitian
aku dan KKN :”))) lalu aku juga bisa berbicara dengan 2 kelas yang menjadi
objekku juga, ahh aku kurang tau keberanian aku terkadang tiba-tiba muncul HAHAHA
aku kemudian berfikir aku menelusuri perjalanan hidupku yang kemarin-kemarin
dan mengingat, hah ternyata aku diberi jalan didunia sosial ini oleh Tuhan
ternyata yaaa untuk melatih aku berani bicara, untuk lebih bisa membangun
kepercayaan diriku, untuk mungkin lebih menyiapkan aku tentang bagaimana masa
depanku, iyaa aku yang sekarang kuliah dijurusan sosiologi ini dituntut untuk
banyak berbicara, dan membangun percaya diriku dilingkungan baruku, ya tapi
terkadang dalam kelas aku masih mengunci rapat mulutku padahal aku mengerti
jawaban yang ditanya dosen dan ini masih semester 3, ayu come on bangkit . . .
kasih yang terbaik dalam kuliah kamu, kasih yang terbaik untuk orangtua kamu
yang telah lelah mencari biaya untuk kuliahmu. Lantas aku berfikir juga dalam
bis menuju pulang ke indralaya tersebut . . apa aku perlu kursus public
speaking? Jika itu bisa meningkatkan kepercayaan diriku kurasa harus dan iya J
Aku begitu mengerti
bagaimana maksud dan tujuan Tuhan begini, Tuhan memberi masalah juga Tuhan
memberi solusi terbaik atas apa yang ditulisnya dalam skenario hidupku, jadi
Tuhan memang selalu memberi tanpa maksud tujuan . . . kenapa baru mengerti
sekarang, ya kalau mengerti dari dulu tentu tidak banyak cerita, hah aku
mengerti sangat mengerti kenapa aku bisa diposisi saat ini, ya itu . . . Tuhan
sedang memberi aku jalan aku lebih bisa percaya diri depan umum . . . tapi
perlahan, iya aku bisanya perlahan membangun ini, tidak secepat kilat . . jadi
jika masih ada dengan yang sengaja merobohkan bangunan confidence-ku ini . .
bisa saja aku kembali memulainya dari awal atau bahkan jika mencapai puncaknya
aku harus kembali memulainya dari tengah dan jika sudah benar-benar berada
dipuncak, aku cukup dengan tidak memperdulikannya karena ya apa biarkan mereka
berbusa dengan tertawa renyahnya atas kekurangan aku ini, jika aku tetap
memperdulikan mereka maka aku akan terus memulai dan cukup sulit berada pada
tingkat percaya diri yang cukup untuk tampil sebagai “pembicara” yang baik,
sekali lagi saya merasa perlu angkat topi bagi mereka yang memiliki
“kekurangan” namun bisa juga membangun kepercayaan diri mereka melebihi saya
ini, Proud of you J semoga saya pun bisa mengikuti jejak kalian untuk percaya bahwa sayapun bisa :))))